DIALEK DAN IDIOLEK PADA CUPLIKAN NOVEL HATI SUHITA KARYA KHILMA ANIS
Ringkasan Teori
Variasi bahasa
merupakan penggunaan bahasa dengan aspek-aspek tertentu sehingga terjadi
perbedaan dalam menuturkan suatu bahasa oleh penutur. Variasi bahasa biasanya
ditentukan berdasarkan aspek wilayah, aspek sosiokultural, aspek kondisi, aspek
waktu, dan aspek media penyampaiannya, yaitu bahasa lisan dan tulisan (Waridah,
2015: 86).
Chaer (dalam
Junaidi, Yani, dan Rismayati, 2016: 3) mengutarakan pendapatnya bahwa dialek
adalah varisasi bahasa yang bersifat kelompok, yang mana penuturnya memiliki
kuantitas yang relatif dan wilayah geografis tertentu. Dialek ditentukan
berdasarkan letak geografis tempat tinggal dari penutur.
Aslinda dan Syahyafya (dalam Nuryani, Santoso, dan Puspitasari,
2018: 64) berpendapat bahwa idiolek adalah variasi bahasa individual. Pada
hakekatnya tiap orang atau individu tidak mempunyai idiolek yang sama dengan
orang lain, tiap orang mempunyai idioleknya masing-masing. Ketidaksamaan ini
lahir akibat dari faktor tubuh dan psikologis tiap-tiap orang yang berbeda.
Temuan Data
Judul : Hati Suhita
Penulis : Khilma Anis
Editor : Akhiriyati Sundari
Penyunting : Asfi Diyah
Penerbit : Telaga Aksara feat Mazaya Media
Terbit : Maret 2019
Tebal : 406 halaman
Genre : Fiksi, romance religy
ISBN : 978-602-51017-4-8
Analisis
a.
Dialek
Seperti yang
telah dibahas pada ringkasan teori bahwa dialek ditentukan berdasarkan letak
geografis dari penutur dialek tersebut. Namun, akibat dari banyaknya masyarakat
yang beralih dari suatu tempat ke tempat lain menyebabkan suatu dialek tidak
hanya ada pada daerah tersebut, tetapi telah menyebar luas ke tempat penutur
asli dialek tersebut beralih. Meski begitu suatu dialek dikenal dikarenakan
letak geografisnya sendiri.
Variasi bahasa
Indonesia berdialek Jawa dapat dilihat dari dialog antara Alina dan Birru,
sebagai berikut: “saya ambilkan air putih, Gus?” Alina berjalan
mendekatiku yang sedang menekuri lembar demi lembar buku filsafat sambil
selonjoran di sofa. “enggak usah. Nanti ta ambil sendiri”. Aku
menjawabnya tanpa menoleh sebab pemikiran Karl Marx begitu menyita perhatianku.
Dari dialek di atas terdapat variasi bahasa Indonesia dialek Jawa, yaitu kata ‘Gus’
dan ‘ta’. Jika dilihat pada KBBI, kata ‘Gus’ dimasukkan pada
bagian Jawa yang berarti nama julukan atau nama panggilan untuk laki-laki.
Namun, pada kehidupan sehari-hari kata ‘Gus’ berarti anak laki-laki dari
seorang kiai yang berasal dari daerah Jawa dan Madura sebagai panggilan hormat.
Sedangkan kata ‘ta’ berarti saya atau aku yang menjadi kata ganti orang
pertama tunggal. Jadi maksud dari dialog antara Alina dan Birru di atas, ialah
“saya ambilkan air putih, Gus (panggilan hormat)?”. “enggak usah. Nanti saya
ambil sendiri”.
Variasi bahasa
Indonesia dialek Jawa selanjutnya dapat dilihat dari dialog antara Birru dan
temannya Permadi, sebagai berikut: “Gus, kowe ki harus menemukan
perempuan pengabsah wangsa yang tepat. Sebabe kowe anak tunggal.
Penerusmu ditunggu wong akeh je”. “apa itu perempuan pengabsah wangsa?”.
Dari dialek di atas terdapat variasi bahasa Indonesia dialek Jawa, yaitu kata ‘kowe’,
‘ki’, ‘pengabsah wangsa’, ‘sebabe’, ‘wong’, ‘akeh’,
dan ‘je’. Kata ‘kowe’ berarti kamu atau kau yang menjadi kata
ganti orang kedua tunggal. Kata ‘ki’ atau ‘iki’ berarti ini dalam
bahasa Indonesia yang menjadi kata penunjuk terhadap sesuatu yang letaknya
tidak jauh dari pembicara. Kata ‘pengabsah wangsa’ berarti wadah
kesaktian dalam bahasa Indonesia. Kata ‘sebabe’ berarti sebabnya dalam
bahasa Indonesia. Kata ‘wong’ berarti orang dalam bahasa Indonesia. Kata
‘akeh’ berarti banyak dalam bahasa Indonesia. Kata ‘je’ dalam
dialek Jawa menjadi sebuah imbuhan yang tidak memiliki makna. Jadi maksud dari
dialog antara Birru dan temannya Permadi di atas, ialah “Gus, kamu ini harus
menemukan perempuan yang menjadi wadah kesaktian yang tepat. Sebabnya kamu anak
tunggal. Penerusmu ditunggu orang banyak”. “apa itu perempuan yang menjadi
wadah kesaktian?”.
Variasi bahasa
Indonesia dialek Jawa selanjutnya dapat dilihat dari dialog antara Birru dan
temannya Permadi, sebagai berikut: “gurung tau krungu po? Iku
lho, perempuan ideal yang menjadi wadah kesaktian dan penerus wangsa leluhur”.
Aku mengernyit. Lalu menggeleng. Tidak biasanya ia membahas hal-hal begini. Dari
dialek di atas terdapat variasi bahasa Indonesia dialek Jawa, yaitu ‘gurung’,
‘tau’, ‘krungu’, ‘po’, dan ‘iku’. Kata ‘gurung’
berarti belum dalam bahasa Indonesia. Kata ‘tau’ berarti pernah dalam
bahasa Indonesia. Kata ‘krungu’ berarti dengar, mendengar dalam bahasa
Indonesia. Kata ‘po’ atau ‘opo’ berarti apa dalam bahasa
Indonesia. Kata ‘iku’ berarti itu dalam bahasa Indonesia yang menjadi
kata penunjuk bagi benda (waktu dan hal) yang jauh dari pembicara. Jadi maksud
dari dialog antara Birru dan temannya Permadi, ialah “belum pernah dengar apa?
Itu loh, perempuan ideal yang menjadi wadah kesaktian dan penerus wangsa
leluhur”.
Variasi bahasa
Indonesia dialek Jawa berikutnya dapat dilihat dari dialog antara Birru dan
temannya Permadi, sebagai berikut: “ta kasih contoh, Gus, yo.
Wara Subadra, Ken Dedes, dan Dewi Mundingsari. Paham rak?”. “pahamlah. Lha
kenopo kog disebut pengabsah wangsa”. Dari dialek di atas ditemukan
variasi bahasa Indonesia dialek Jawa, yaitu ‘yo’, ‘rak’, dan ‘kenopo’.
Kata ‘yo’ berarti ya dalam bahasa Indonesia. Kata ‘rak’, ‘ra’,
atau ‘ora’ berarti tidak dalam bahasa Indonesia. Kata ‘kenopo’
berarti kenapa dalam bahasa Indonesia. Jadi maksud dari dialog antara Birru dan
temannya Permadi di atas, ialah “saya kasih contoh, Gus, ya. Wara Subadra, Ken
Dedes, dan Dewi Mundingsari. Paham tidak?”. “pahamlah. Lah kenapa kok disebut
wadah kesaktian”.
Variasi bahasa
Indonesia dialek Jawa berikutnya dapat dilihat dari dialog antara Birru dan
temannya Permadi, sebagai berikut: “mereka ini panas secara gaib, Gus.
Ya, Ken Dedes, ya Dewi Mundingsari”. “panas piye?”. “ya, pokoke
panas. Ada bagian tertentu dari tubuh kedua putri ini yang bercahaya. Hanya
laki-laki dengan kekuatan ghaib yang mempu menikahinya”. “goleko seng koyo
ngunu kui, Gus”. Dari dialek di atas ditemukan variasi bahasa Indonesia
dialek Jawa, yaitu ‘piye’, ‘pokoke’, ‘goleko’, ‘seng’,
‘koyo’, ‘ngunu’, dan ‘kui’. Kata ‘piye’ berarti
bagaimana dalam bahasa Indonesia. Kata ‘pokoke’ berarti pokoknya dalam
bahasa Indonesia. Kata ‘goleko’ berarti carilah dalam bahasa Indonesia.
Kata ‘seng’ berarti yang dalam bahasa Indonesia. Kata ‘koyo’
berarti kayak, seperti dalam bahasa Indonesia. Kata ‘ngunu’ berarti begitu,
begitu dalam bahasa Indonesia. Kata ‘kui’ berarti itu dalam bahasa
Indonesia. Jadi maksud dari dialog antara Birru dan temannya Permadi di atas,
ialah “panas bagaimana?”. “ya, pokoknya panas. Ada bagian tertentu dari tubuh
kedua putri ini yang bercahaya. Hanya laki-laki dengan kekuatan ghaib yang
mampu menikahinya”. “carilah yang seperti begitu itu, Gus”.
Pada beberapa kosakata dialek Jawa di atas terdapat kata-kata yang
hanya dituturkan oleh daerah tertentu berdasarkan letak geografisnya. Contohnya
kata Gus yang hanya dipakai di daerah Jawa dan Madura. Kemudian, kata rak
dan kenopo yang merupakan dialek sebelah utara (dialek pesisir) dan
Jawa Tengah. Kemudian, kata je yang merupakan kata sisipan yang biasanya
dipakai oleh orang Jawa Tengah. Adapun sebagian besar kata-kata yang lain
merupakan kata-kata yang biasanya dipakai oleh orang Jawa Tengah.
b. Idiolek
Berbeda dengan variasi bahasa di atas, yaitu dialek yang mana untuk menentukannya berdasarkan letak geografis daerah penutur dialek tersebut, idiolek muncul secara alamiah dari masing-masing penuturnya. Idiolek muncul berdasarkan kondisi tubuh dan psikologis dari penuturnya. Tidak hanya itu idiolek juga muncul dikarenakan faktor intelektual dan kapabilitas dalam suatu bidang yang ditekuni oleh penuturnya. Contohnya, seseorang yang menekuni bidang politik akan lebih sering mengatakan kata rekonsiliasi daripada perdamaian dalam kalimat ‘proses rekonsiliasi antara pihak A dan pihak B berlangsung lancar dan damai’.Cuplikan novel Hati Suhita karya Khilma Anis ini mengisahkan
sudut pandang milik Gus Birru. Jadi, idiolek yang akan dianalisis kali ini
ialah idiolek dari Gus Birru. Menjadi aktivis pergerakan saat masih muda dan saat
ini bekerja di bidang jurnalistik yang mengarah ke sastra, membuat Gus Birru
memiliki idiolek seputar bidang tersebut, yaitu politik, jurnalistik, dan
sastra.
Pada cuplikan novel Hati
Suhita karya Khilma Anis terdapat idiolek seputar sastra, yaitu pada
kalimat berapa kali tepatnya purnama-purnama itu berlalu tanpa sajak cinta
di kamar ini. Mungkin tujuh kali atau lebih. Aku tidak menghitungnya. Artinya
selama itu pula aku mendiamkan Alina. Pada kalimat di atas ditemukan
idiolek Gus Birru, yaitu purnama-purnama itu berlalu tanpa sajak cinta di kamar
ini. Maksud dari idiolek Gus Birru ialah sudah berapa bulan berlalu, akan
tetapi ia dan Alina belum pernah melakukan hubungan suami istri, bahkan
melakukan hal romantis saja tidak pernah, ia selalu mengabaikan Alina begitu
saja.
Idiolek selanjutnya terdapat pada kalimat setiap kuyakinkan
diriku bahwa Alina cantik, senyum Rengganis selalu hadir mendahuluinya. Setiap
kuyakinkan bahwa Alina menyenangkan, keceriaan Rengganis hadir di pelupuk mata.
Pada kalimat di atas ditemukan idiolek Gus Birru, yaitu keceriaan Rengganis
hadir di pelupuk mata. Maksud dari idiolek tersebut ialah setiap kali ia
meyakinkan dirinya bahwa Alina cantik dan menyenangkan, di pikirannya hanya
terdapat kenangannya bersama Rengganis, yaitu tentang senyum dan keceriaan dari
Rengganis.
Idiolek selanjutnya terdapat pada kalimat wajahnya begitu damai,
tak ada dendam, tak ada ambisi, dan tak ada kebencian. Ia hanya mengadukan
masalahnya di atas sajadah. Ia hanya menumpahkan tangisnya di sepertiga malam.
Bukan kepada keluarganya. Pada kalimat di atas ditemukan idiolek milik Gus
Birru, yaitu ia hanya mengadukan masalahnya di atas sajadah, ia hanya
menumpahkan tangisnya di sepertiga malam. Maksud dari idiolek tersebut ialah
walaupun ia sering mendiamkan atau mengabaikan Alina, Alina sama sekali tidak
pernah terlihat dendam dan benci terhadapnya. Ia tidak pernah mengadu kepada
orang tua Gus Birru dan keluarganya, ia hanya mengadu sambil menangis kepada
Allah melalui sholat wajibnya dan tahajudnya.
Idiolek berikutnya ditemukan pada kalimat kututup daun jendela
dan kunyalakan AC. Lalu kurapikan selimutnya sampai ke dada. Aku begitu merasa
bersalah karena tadi membentaknya soal buku yang ia pindahkan. Apakah isaknya
tadi karena perkataanku menusuk hatinya? Pada kalimat di atas terdapat
idiolek milik Gus Birru, yakni apakah isaknya tadi karena perkataanku menusuk
hatinya? Maksud dari idiolek tersebut ialah ia merasa bersalah kepada Alina
saat merapikan selimut Alina, karena ia sempat membentaknya saat tahu bahwa
bukunya dipindahkan oleh Alina. Sebelum Alina tidur ia mendengar isakan lirih
Alina, ia mengira isakan Alina disebabkan oleh bentakannya dan itu menyakiti
hati Alina.
Idiolek berikutnya ditemukan pada kalimat ia bisa begitu
meladeni diamku, tidak pernah sekalipun ia mencoba memecah kesunyian. Tapi di
depan abah dan ummiku, ia bisa begitu ceria. Pada kalimat tersebut terdapat
idiolek Gus Birru, yakni tidak pernah sekalipun ia mencoba memecah kesunyian.
Maksud dari idiolek tersebut ialah Alina tidak pernah membuat kebisingan atau
keributan di kamar saat bersamanya. Alina dapat bertahan dengan tidak berbicara
dengannya di dalam kamar. Akan tetapi saat bersama abah dan ummi Gus Birru ia
terlihat sangat berbeda, karena ia begitu ceria saat bersama mereka.
Simpulan
Dialek
ditentukan berdasarkan letak geografis tempat tinggal penutur dialek tersebut.
Itulah yang membuat dialek muncul, karena dalam suatu bahasa terdapat variasi
bahasa (dialek) yang hanya digunakan pada daerah tertentu. Adapun pada cuplikan
novel Hati Suhita karya Khilma Anis terdapat beberapa kata yang
merupakan dialek Jawa, yaitu ‘Gus’, ‘ta’, ‘kowe’, ‘ki’,
‘pengabsah wangsa’, ‘sebabe’, ‘wong’, ‘akeh’, ‘je’,
‘gurung’, ‘tau’, ‘krungu’, ‘po’, ‘iku’ ‘yo’,
‘rak’, ‘kenopo’, ‘piye’, ‘pokoke’, ‘goleko’,
‘seng’, ‘koyo’, ‘ngunu’, dan ‘kui’. Dari kata-kata
dialek Jawa di atas terdapat dialek Jawa dari Jawa-Madura, daerah utara atau
pesisir dan Jawa Tengah.
Idiolek muncul secara
alamiah tergantung dari masing-masing penuturnya. Tidak didasarkan pada letak
geografis daerah penutur, akan tetapi didasarkan pada kondisi tubuh, kondisi
psikologis, faktor intelektual, dan faktor kepiawaian terhadap bidang yang sedang
digeluti oleh penuturnya. Adapun pada cuplikan novel Hati Suhita karya
Khilma Anis ditemukan beberapa idiolek milik Gus Birru selaku pemilik sudut
pandang pada cuplikan novel Hati Suhita kali ini, yaitu purnama-purnama
itu berlalu tanpa sajak cinta di kamar ini, keceriaan Rengganis hadir di
pelupuk mata, ia hanya mengadukan masalahnya di atas sajadah, ia hanya
menumpahkan tangisnya di sepertiga malam, apakah isaknya tadi karena
perkataanku menusuk hatinya?, dan tidak pernah sekalipun ia mencoba memecah
kesunyian.

Komentar
Posting Komentar